Pentingnya Pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada Bidan

by

Tingkat pengetahuan tentang HIV pada bidan berkorelasi positif dengan keterampilan sosialisasi kepada pengunjung poli KIA. Hasil penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa dari 524 ibu yang berkunjung ke poli KIA hanya 46,5% yang memiliki pengetahuan mendasar tentang HIV dan AIDS (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Di sebuah pedesaan India bernama Dehradun hanya 35,1% ibu hamil yang pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Ibu-ibu hamil tersebut juga memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebagian besar dari mereka mengetahui HIV dari televisi. Sementara sebuah penelitian di Malawi, radio dan bidan adalah sumber informasi utama bagi ibu hamil mengenai penularan dan penanganan HIV dan AIDS (Negi, Khandpal, Kumar, & Kukreti, 2006). Hasil penelitian Bassey, Elemuwa, dan Anukam (2007) menemukan bahwa sebanyak 34,2% dukun bersalin di negara bagian Cross River mendapatkan informasi mengenai HIV dan AIDS dari pusat kesehatan masyarakat.

Pengetahuan bidan tentang HIV dan AIDS adalah hal penting karena menjadi dasar perubahan perilaku yang positif. Mengurangi stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan tidak hanya menyasar sikap dan perilaku pekerja kesehatan tetapi juga perlu memenuhi kebutuhan informasi yang mereka butuhkan terkait HIV dan AIDS (UNAIDS, 2007). Di negara berkembang rendahnya pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV dan AIDS menjadi faktor penyebab epidemi HIV (Majid dkk., 2010). Pengetahuan dalam hal ini dioperasionalkan sebagai tingkat informasi akurat yang dimiliki bidan tentang penularan HIV dan AIDS secara vertikal atau dari-ibu-ke-anak. Sementara perilaku didefinisikan sebagai tindakan bidan dalam usaha prevensi penularan HIV dan AIDS dari-ibu-ke-anak (Ndikom & Onibokum, 2007). Sherr (dalam Bennet & Weale, 1997) menemukan hasil positif yang signifikan antara pengetahuan tentang HIV dan kesiapan petugas kesehatan dalam memberikan edukasi dan mendeteksi calon ibu dan ibu hamil yang terinfeksi HIV. Ndikom dan Onibokum menyatakan bahwa pengetahuan tentang HIV dan AIDS, usia, dan lamanya pengalaman praktik pada bidan memiliki korelasi positif yang signifikan dengan perilaku sosialisasi HIV dan AIDS yang mereka berikan pada pasiennya. Sementara layanan kesehatan yang tidak pernah mengadakan pelatihan tentang HIV dan AIDS mengaku bahwa mereka kesulitan dalam melayani pasien dengan HIV positif (Reis dkk., 2005). Akan tetapi pengetahuan tentang risiko dan perilaku berisiko tidak otomatis dapat menimbulkan perubahan perilaku pada petugas kesehatan (Somma, Bodiang, Mollet, & Ruedin, 2003). Lymer (dalam Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011) menemukan bahwa pengetahuan yang tinggi dan sikap positif tidak selalu menghasilkan perilaku aman yang dilakukan oleh petugas kesehatan ketika praktik.

WHO menemukan bahwa di Afrika banyak petugas kesehatan yang gagal dalam menjalankan perannya untuk mencegah penularan HIV karena pengetahuan yang rendah, sikap negatif seperti stigma, kurangnya edukasi yang berkelanjutan, serta ketersediaan peralatan kesehatan yang tidak memadai (Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008). Grellier (dalam Nordkvist & Pyykkö, 2008) melaporkan bahwa hanya 37% mahasiswa kebidanan yang mendapat edukasi tentang HIV di bangku kuliah mereka. Nordkvist dan Pyykkö menemukan bahwa 78% mahasiswa kebidanan di Vietnam tidak mendapatkan edukasi yang memadai tentang HIV dan AIDS ketika kuliah dan 54% calon bidan memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebanyak 42% calon bidan merasa tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mereka kurang percaya diri untuk memberi edukasi pada perempuan yang berkunjung ke poli KIA. Sementara Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) menemukan 25% bidan tidak memahami bahwa HIV dapat menular lewat pemberian ASI dan 26% tidak mengetahui bahwa penggunaan jarum tidak steril saat membuat tato juga dapat menularkan HIV. Sebanyak 91% bidan sadar bahwa mereka berisiko tertular HIV saat bekerja tetapi para bidan tersebut memiliki estimasi risiko yang terlalu besar. Hasil penelitian Ndikom dan Onibokum (2007) terhadap 155 bidan menemukan bahwa hanya sebanyak 41% bidan yang mendapatkan informasi tentang HIV ketika kuliah. Sebanyak 34,2% bidan memiliki pengetahuan yang rendah mengenai HIV dan AIDS, hanya 51% bidan yang tergolong cukup memahami penyakit tersebut.

Faktor sosial utama yang menjadi penyebab stigma dan diskriminasi adalah rendahnya pemahaman tentang cara penularan HIV (Engender Health, 2004). Ketakutan publik dan kurangnya edukasi tentang HIV mendorong sikap menyalahkan dan penolakan sosial terhadap orang yang terinfeksi HIV (Rintamaki, Davis, Skripkauskas, Bennet, & Wolf, 2006), khususnya pada masyarakat desa karena tingkat pengetahuan tentang HIV di pedesaan tergolong rendah (Msellati, 2009). Hasil studi menunjukkan bahwa petugas kesehatan yang paham tentang cara penularan HIV memiliki sikap negatif atau stigma yang lebih rendah kepada orang dengan HIV positif dibandingkan dengan orang yang memiliki sedikit pengetahuan atau pengetahuan yang keliru tentang cara penularan HIV (Norman, Carr, & Jiménez, 2006; Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011; Wolfe dkk, 2008). Kalichman dan Simbayi (dalam Holzemer dkk., 2007) menemukan bahwa stigma berkorelasi negatif dengan pengetahuan HIV. Petugas kesehatan dengan pengetahuan yang rendah atau keliru mengenai cara penularan HIV memiliki ketakutan yang berlebihan pada orang terinfeksi HIV.

Reis dkk. (2005) menemukan perawat atau bidan yang tidak pernah atau jarang mendapatkan pelatihan tentang penanganan HIV dan AIDS setuju bahwa pasien dengan HIV positif harus memiliki unit terpisah dari pasien lainnya ketika berada di rumah sakit. Dibandingkan dengan doktor, perawat dan bidan memiliki persetujuan lima kali lebih tinggi bahwa orang terinfeksi HIV tidak seharusnya bekerja di sektor kesehatan dan tempat tidur pasien dengan HIV perlu diberi tanda khusus. Bidan dan perawat tersebut juga memiliki persetujuan dua kali lebih tinggi daripada dokter tentang pengetesan HIV pada pasien tanpa perlu persetujuan pasien yang bersangkutan. Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) melakukan penelitian pada mahasiswa keperawatan di Delhi. Hasil menunjukkan sebanyak 85% mahasiswa merasa perlu diadakan tes HIV rutin bagi kelompok berisiko tinggi, pasien rawat inap di rumah sakit, dan petugas kesehatan. Hasil evaluasi di Afrika mengenai program pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak adalah sebagian besar klinik tidak memiliki tenaga terlatih untuk pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak. Hal ini juga berdampak pada sikap negatif yang ditujukan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang terinfeksi HIV (Peltzer, Phaswana-Mafuya, & Ladzani, 2010).

Sharp dkk. (dalam Bennet & Weale, 1997) menyimpulkan bahwa bidan membutuhkan edukasi spesifik tentang HIV dan AIDS saat menempuh pendidikan kebidanan dan keperawatan. Chinkonde, Sundby, dan Martinson (2009) menyimpulkan bahwa perlu diadakan edukasi berkelanjutan tentang HIV dan AIDS bagi bidan. Hasil diskusi para bidan di Afrika menunjukkan bahwa mereka merasa perlu mendapatkan pelatihan tentang pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan perlu diberikan informasi terbaru secara kontinyu (Peltzer, Phaswana-Mafuya, & Ladzani, 2010). Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) juga mengatakan perlunya edukasi tentang cara penularan HIV bagi bidan di pedesaan. Bidan juga perlu mendapatkan materi tentang keterampilan berkomunikasi untuk sosialisasi, serta konseling dan tes HIV secara sukarela (Busza, 1999; Gamazina, Mogilevkina, Parkhomenko, Bishop, Coffey, & Brazg, 2009; Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006; Ngure, 2006). Hak-hak asasi orang dengan HIV positif juga perlu mendapatkan perhatian khusus (Reis dkk., 2005). Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, dan Asuzu (2008) menambahkan materi tentang stigma dan diskriminasi yang ditujukan pada pasien, keluarga, serta bidan yang bersangkutan.

Ajuwon, A., Funmilayo, F., Oladepo, O., Osungbade, K., & Asuzu, M. (2008). Effects of Training Programme on HIV/AIDS Prevention among Primary Health Care Workers in Oyo State, Nigeria. Health Education, 108 (6), 463-474doi: 10.1108/09654280810910872.

Bassey, E.B., Elemuwa, C.O., & Anukam, K.C. (2007). Knowledge of, and Attitudes to, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) among Traditional Birth Attendants (TBAs) in Rural Communities in Cross River State, Nigeria. International Nursing Review, 54, 354-358.

Bennet, C., & Weale, A. (1997). HIV and AIDS Awarness: an Evaluation of a Short Training Programme for Midwives. Journal of Advanced Nursing, 26, 273-282.

Busza, J. (1999). Challenging HIV-Related Stigma and Discrimination in Southeast Asia: Past Successes and Future Priorities. Literature Review. USA: The Population Council.

Chinkonde, J.R., Sundby, J., & Martinson, F. (2009). The Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission Programme in Lilongwe, Malawi: Why Do So Many Women Drop Out. Reproductive Health Matters, 17 (33), 143-151.

Engender Health. (2004). Reducing Stigma and Discrimination Related to HIV and AIDS: Training for Health Care Workers. New York: Engender Health.

Gamazina, K., Mogilevkina, I., Parkhomenko, Z., Bishop, A., Coffey, P.S., & Brazg, T. (2009). Improving Quality of Prevention of Mother-to Child-HIV Transmission Services in Ukraine: a Focus on Provider Communication Skills and Linkages to Community-Based Non-Govermental Organizations. Cent Eur J Public Health, 17 (1), 20-24.

Holzemer, W.L., Uys, L., Makoae, L., Stewart, A., Phetlhu, R., Dlamini, P.S., Greeff, M., Kohi, T.W., Chirwa, M., Cuca, Y., & Naidoo, J. (2007). A Conceptual Model of HIV/AIDS Stigma from Five African Countries. Jan Original Research: Journal Compilation, 541-551.

Kermode, M., Holmes, W., Langkham, B., Thomas, M.S., & Gifford, S. (2005). HIV-related Knowledge, Attitudes and Risk Perception amongst Nurses, Doctors, and Other Healthcare Workers in Rural India. Indian J Med Res, 122, 258-264.

Majid, T., Farhad, Y., Sorour, A., Soheila, A., Farnaz, F., Hojjat, Z., & Leili, C. (2010). Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV/AIDS: Do Iranian Pregnant Mothres Know about It? J Reprod Infertil, 11 (1), 53-37.

Mathole, T., Lindmark, G., & Ahiberg, B.M. (2006). Knowing but not Knowing: Providing Maternity Care in the Context of HIV/AIDS in Rural Zimbabwe. African Journal of AIDS Research, 5 (2), 133-139.

Msellati, P. (2009). Improving Mothers’ Access to PMTCT programs in West Africa: a Public Health Perspective. Social Science and Medicine, 69, 807-812. doi: 10.1016/j.socscimed.2009.05.034.

Ndikom, C.M., & Onibokum, A. (2007). Knowledge and Behaviour of Nurse/Midwives in teh Prevention of Vertical Transmission of HIV in Owerri, Imo State, Nigeria: a Cross-sectional Study. BMC Nursing, 6 (9). doi: 10.1186/1472-6955-6-9.

Negi, K.S., Khandpal, S.D., Kumar, A., & Kukreti, M. (2006). Knowledge, Attitude and Perception about HIV/AIDS among Pregnant Women in Rural Area of Dehradun. JK Science, 8 (3), 133-138.

Ngure, P. (2006). Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission. Contact, 182, 18-21.

Nordkvist, H., & Pyykkö, E. (2008). Knowledge, Perceptions and Attitudes among Midwifery Students towards HIV/AIDS in Vietnam. A Minor Field Study Report (Tidak diterbitkan). Swedia: Karolinska Institute.

Norman, L.R., Carr, R., & Jiménez, J. (2006). Sexual Stigma and Sympathy: Attitudes toward Person Living with HIV in Jamaica. Culture, Health & Sexuality, 8 (5), 423-433. doi: 10.1080/13691050600

Peltzer, K., Phaswana-Mafuya, N., & Ladzani, R. (2010). Implementation of the National Programme for Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV: a Rapid Assessment in Cacadu District, South Africa. African Journal of AIDS Research, 9 (1), 95-106. doi: 10.2989/16085906.2010.484594.

Reis, C., Heisler, M., Amowitz, L.L., Moreland, R.S., Mafeni, J.O., Anyamele, C., & Iacopino, V. (2005). Discriminatory Attitudes and Practices by Health Workers toward Patients with HIV/AIDS in Nigeria. Plos Med, 2 (8), 743-752.doi: 10.13/1/journal.pmed.0020246.

Rintamaki, L.S., Davis, T.C., Skripkauskas, S., Bennet, C.L., & Wolf, M.S. (2006). Social Stigma Concerns and HIV Medication Adherence. AIDS Patient Care and STDs, 20 (5), 359-368.

Sasaki, Y., Ali, M., Sathiarany, Kanal, K., & Kakimoto, K. (2010). Prevalence and Barriers to HIV testing among Mothers at a Tertiary Care Hospital in Phnom Penh, Cambodia: Barriers to HIV Testing in Phnom Penh, Cambodia. BMC Public Health, 10 (494). doi: 10.1186/1471-2458-10-494.

Simbar, M., Shayan-Menesh, M., Nahidi, F., & Akbar-Zadeh, A. (2011). Health Belief of Midwives about HIV/AIDS Pretection and the Barriers to Reducing Risk of Infection: An Iranian Study. Leadership in Health Services, 24 (2), 106-117. doi: 10/1108/17511.87111112894.

Somma, D.B., Bodiang, C.K., Mollet, S., & Ruedin, L. (2003). The Cultural Approach to HIV/AIDS Prevention. Swiss: Swiss Agency for Development and Cooperation.

UNAIDS. (2007). Reducing HIV Stigma and Discrimination: a Critical Part of National AIDS Programmes. Genewa: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS.

Wolfe, W.R., Weiser, S.D., Leiter, K., Steward, W.T., Korte, F.P., Phaladze, N., Iacopino, V., & Heiser, M. (2008). The Impact of Universal Access to Antiretroviral Therapy on HIV Stigma in Botswana. American Journal of Public Health, 98 (10), 1865-1871.

(nai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *