Peringatan IDAHO 2013: Katakan Tidak pada Cyberbullying

by

Puluhan orang yang datang dari beragam latar belakang, berkumpul dan menari bersama di Alun-alun Selatan, Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Aksi Kumpul Warga ini dilakukan untuk memperingati Hari Internasional Melawan Homofobia atau International Day Against Homophobia (IDAHO) yang merupakan kegiatan tahunan untuk memperingati keputusan yang diambil WHO pada 17 Mei 1990 yang menghapuskan homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa.

Homofobia masih menjadi ancaman bagi komunitas LGBT di seluruh dunia. Saat ini di hampir 80 negara, ketertarikan terhadap sesama jenis masih dianggap ilegal. Bahkan di sembilan negara, hal tersebut bisa mendapatkan hukuman mati.

Homofobia yang ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari mengambil berbagai macam bentuk dengan beragam cara. Bullying atau intimidasi adalah salah satunya. Remaja LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender dan transseksual) seringkali menjadi sasaran dari pelaku bullying. Di beberapa negara, jumlah korban bullying karena alasan orientasi seksual dan identitas gender ini menempati urutan kedua. Seiring majunya teknologi, bullying berbasis homofobia pun masuk ke dunia maya atau dikenal dengan cyberbullying.

“Efek cyberbullying ini tidak main-main. Seorang remaja perempuan 14 tahun memutuskan bunuh diri karena seringkali mendapatkan pesan melecehkan di akun jejaring sosialnya,” kata Ahmad Syaifuddin, Ketua Panitia Peringatan IDAHO 2013.

Cyberbullying dipilih sebagai tema peringatan IDAHO di Yogyakarta pada 2013 ini atas dasar keprihatinan tersebut. Selain berkampanye di dunia maya, beberapa kegiatan juga dirancang untuk menumbuhkan kesadaran di masyarakat berkaitan dengan isu orientasi seksual dan identitas gender ini, termasuk acara Kumpul Warga yang mengumpulkan masyarakat yang memberikan dukungan terhadap gerakan anti bullying.

Dalam acara tersebut, para peserta menyanyikan beberapa lagu untuk menarik perhatian massa dan mengajak mereka untuk bersama-sama mengatakan tidak pada cyberbullying. Bendera pelangi yang menjadi simbol keberagaman dan perjuangan gerakan identitas LGBT terus dikibarkan selama acara. Para peserta tidak takut terhadap kemungkinan penyerangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak menyetujui aksi mereka, seperti yang pernah dialami pada peringatan IDAHO 2010. Peringatan tersebut rencananya akan diselenggarakan di tempat yang sama dengan peringatan 2013 ini, namun terpaksa dibatalkan karena mendapatkan ancaman dari pihak tertentu.

“Kami ingin menunjukkan bahwa ruang publik ini milik semua orang, bisa diakses oleh siapapun tanpa melihat identitasnya. LGBT punya hak yang sama sebagai warga negara. Sekaligus membuktikan bahwa kami tidak gentar terhadap ancaman mereka,” ujar Fairy, salah satu peserta aksi.

Peringatan IDAHO diadakan untuk menarik perhatian para pembuat kebijakan, para pemimpin, gerakan-gerakan sosial, masyarakat dan media terhadap isu pemenuhan hak LGBT. Deklarasi Montreal pada 2006 memberikan rekomendasi agar tanggal 17 Mei ini diperingati secara global. Kini, kegiatan yang berkaitan dengan IDAHO telah dilakukan di lebih dari 100 negara di dunia. Peringatan ini telah juga diterima dan secara rutin dilakukan oleh beberapa negara dan mendapatkan pengakuan dari hampir semua badan PBB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *