Pernyataan M. Nuh, Remaja Kurang Respons

by

Meski pernyataan Kemendiknas jelas-jelas menyalahkan remaja perempuan yang mengalami tindak kekerasan seksual, tampaknya gerakan remaja pada level nasional dan daerah tidak menunjukkan perlawanan. Apakah gerakan remaja masih berada dalam ruang seremonial belaka, keberadaannya hanya sebagai bentukan program dari organisasi orang dewasa? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, swaranusa.net melakukan wawancara dengan Gama Triyono, Program Manager PKBI DIY. Berikut kutipannya.

Apa pendapat Anda tentang pernyataan Kemendiknas terkait kekerasan seksual yang dialami pelajar perempuan SMP Yayasan Budi Utomo?

Statement Kemediknas (M. Nuh–Red.) menunjukkan bagaimana perspektifnya terkait dengan pemenuhan hak atas kesehatan reproduksi dan seksual bagi remaja sekolah. Lagi-lagi, korban yang diperlakukan sebagai pelaku.

Apakah permintaan maafnya itu sudah dianggap cukup?

Permintaan maaf saja tidak cukup untuk “memperbaiki keadaan” sesuai dengan yang seharusnya dilakukan oleh seorang Menteri yang bertanggungjawab akan pemenuhan hak tersebut. Bagi saya, “merehabilitasi” sangat perlu, namun tidak boleh dimaknai semata sebagai tindakan penyelamatan yang sifatnya pragmatis untuk menghadapi kritik atas statementnya yang “menyalahkan” korban.

Permohonan maaf sang Menteri harus diikuti dengan tindakan nyata untuk mewujudkan pemenuhan hak pendidikan atas informasi kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensif bagi remaja sekolah. Dari catatan yang saya miliki, ada banyak kasus dan selalu remaja sekolah perempuan yang menajdi korban tunggal dan mendapatkan hukuman tunggal.

Maksudnya?

Permohonan maafnya menurut saya musti dikelola sebagai “momentum” untuk membangun gerakan dalam upaya pemenuhan hak pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang komprehensiid, masuk sebagai sebuah mata pelajaran. Pendidikan Kespro dan seksual yang komprehensif akan memberikan bekal kepada remaja untuk menghadapi tantangan dan memberikan ruang kepada remaja untuk memutuskan pilihyan yangv lebih bertanggungjawab agar tidak menjadi korban dan mengalami resiko reproduksi, IMS, HIV dan KTD.

Dari gerakan remaja sendiri tampaknya kurang memberikan respons. Benarkah?

Ini yang menurut saya peru direfleksikan ulang terkait dengan positioning gerakan remaja dan juga remaja-remaja yang berada dalam gerakan tersebut. Mekanisme yang selama ini dikritik habis-habisan oleh kalangan remaja, ternyata dilakukan juga oleh sebagian remaja yang ada dalam gerakan. Bahkan mereka menjadikan posisinya dalam gerakan sebagai “batu loncatan” untuk jenjang karier yang lebih tinggi.

Apa akibatnya?

Ini yang menjadikan gerakan remaja belum begitu terdengar. meskipun kawan-kawan yang saya kenal “bergerak” bersama dengan jaringan lain, namun isu remajanya sendiri kalah dengan isu kekerasan berbasis gender secara umum. Jadi, ya, isu remaja ketutup.

Ada persoalan lain yang dihadapi gerakan remaja?

Gerakan remaja masih mengikuti arah gerakan lembaga, organisasi yang mendukungnya. Gerakannya juga masih terbatas.

Langkah ke depan agar gerakan remaja diperhitungkan?

Pengorganisasian remaja menjadi salah satu kunci dari “membangun gerakan remaja”. Dengan melakukan “pembebasan” pada remaja agar mampu melawan penindasan berbasis seksual dan identitas gender yang mereka alami, akan melahirkan agen of change yang tidak semata-mata bergerak karena perintah dari “pembentuk dan suporternya”, Namun akan bergerak karena menyadari, ada sistem dan keadaan yang menyebabkan mereka tertindas dan musti diubah sistem yang menindas dan meninggikan itu.

Ada problem sinergitas antar isu?

Keterputusan gerakan, antara gerakan remaja, misalnya, remaja sekolah, remaja jalanan, remaja LGBT, Remaja Pekerja Seks, remaja pecinta lingkungan, remaja anti korupsi, dan remaja anti kekerasan, menjadi salah satu catatan penting untuk direfleksikan. Sergitas gerakan remaja ragam identitas menjadi satu hal yang musti segera dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *