Persentuhan Manis LGBT dan Masyarakat

by

Tiga belas tahun lalu, sekumpulan pemuda di Yogyakarta mendeklarasikan Hari Solidaritas LGBT Nasional. Sayang, tak banyak yang tahu, termasuk para aktivis hak asasi manusia. Kurangnya sosialisasi dan kurang maraknya kegiatan-kegiatan membuat hari yang diperingati setiap 1 Mei tersebut tenggelam. Ditambah pula, aktivis LGBT dan HAM di Indonesia lebih memilih memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO) setiap 17 Mei. Tanpa mengecilkan makna dari peringatan IDAHO, kita justru bisa menemukan satu kearifan lokal yang luar biasa dibalik Hari Solidaritas LGBT Nasional ini.

Dari pemilihan nama saja, kita bisa melihat bahwa peringatan ini bukan hanya ‘untuk dan oleh’ komunitas LGBT saja. Jika iya, mungkin namanya menjadi Hari LGBT Nasional. Alih-alih menggunakan kata yang provokatif dan tendensius, kata ‘solidaritas’ sengaja dipilih untuk lebih menonjolkan kebersamaan dan kesetaraan. Tidak hanya dalam komunitas LGBT, tapi juga merangkul semua elemen masyarakat yang selama seringkali masih keliru mempersepsikan apa, siapa dan bagaimana LGBT itu.

Gerakan LGBT di Indonesia seringkali dicap ekslusif dan kebarat-baratan. Kajian-kajian historis kemudian dilakukan untuk mencari jejak-jejak keberagaman seksualitas di budaya Nusantara tempo dulu. Terkuaklah bahwa bangsa ini tidak hanya kaya akan keberagaman namun juga memiliki pengalaman yang indah dan menarik tentang hidup berdampingan dalam alam keberagaman, termasuk keberagaman seksual. Asumsi tentang homoseksualitas atau transjenderisme yang diimpor dari budaya luar menjadi terpatahkan. Tapi toh, masyarakat Indonesia modern lebih memilih budaya luar yang lain yang cenderung heteroseksis dan homofobik sebagai jati diri bangsanya.

Semangat aktivis LGBT dan HAM dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan mendapatkan wadah yang lebih besar paska reformasi. Namun di sisi lain, homofobia kelompok tertentu juga mendapatkan ruang yang sama besarnya, bahkan beberapa terlegitimasi melalui aturan-aturan yang diksriminatif. Tentu ini adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh para aktivis. Strategi kampanye kesetaraan hak warga negara yang LGBT harus dipikirkan lebih matang, tidak hanya perkara efektivitas, namun juga bagaimana menyiasati saat berhadapan dengan kelompok-kelompok homofobik.

Maka, peringatan Hari Solidaritas LGBT Nasional yang digelar oleh sejumlah lembaga di Yogyakarta pada Jumat (01/03/2013) kemarin adalah langkah yang patut mendapatkan apresiasi tinggi. Rangkaian acara tidak dilakukan dengan format yang selama ini dilakukan aktivis LGBT Indonesia yang seringnya mengadakan kegiatan dengan sasaran, tampak dari pemilihan tempat dan kegiatan, yang justru sudah familiar dengan kehidupan atau terbiasa melakukan kajian tentang LGBT.  Bukan di kampus, café, atau lembaga-lembaga kebudayaan, peringatan Hari Solidaritas LGBT Nasional Yogyakarta 2013 mengambil tempat di sebuah kantor kecamatan di Kabupaten Bantul. Sasarannya adalah warga setempat. Warga desa yang seringnya jauh dari pergulatan wacana seksualitas. Warga yang kemudian bisa satu panggung bersama komunitas LGBT, tanpa rasa rikuh atau risih.

Peringatan ini menunjukkan semangat para aktivis untuk mengembalikan nilai-nilai yang dikehendaki dari Hari Solidaritas LGBT Nasional, kebersamaan. Peringatan ini telah menumbuhkan kembali keyakinan bahwa masyarakat kita memiliki potensi luar biasa untuk hidup berdampingan dalam segala macam keberagaman. Peringatan ini membuktikan bahwa proses penerimaan dan sikap saling menghargai seringkali muncul bukan dari gencaran kampanye dengan teknologi canggih atau diskusi tingkat menara gading, tapi justru melalui intensitas persentuhan-persentuhan antar individu yang wajar dan manusiawi. Manis. (Nai)

Selamat Hari Solidaritas LGBT Nasional!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *