PKBI, Perlu Paradigma Baru

by
Menghadapi berbagai tantangan masa depan, PKBI harus membangun paradigma baru, mengubah strategi program dan membangun kapasitas SDM. Selain itu menuntaskan berbagai gagasan yang belum diwujudkan. Demikian, antara lain gagasan yang dilontarkan Widodo Adi, Dirtektur Eksekutif Daerah PKBI Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada swaranusa.net, kemarin (12/10).

Adi, memberikan contoh perubahan pardigma yang harus dikembangkan, kerangka kerja program harus diarahkan dalam bentuk jejaring. “PKBI tidak berkubang lumpur lapangan langsung,” katanya.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia diarahkan untuk lebih profesional. Sehingga orang-orang yang terlibat sebagai staff Perkumpulan tidak terkesan gemuk. “Kecilkan jumlah staff,” kata mantan Direktur Eksekutif Daerah PKBI Daerah Jawa Timur ini.

Menurut Adi, dalam pengembangan organisasi ke depan, kepemimpinan pusat harus menuntaskan gagasan PKBI sebagai federasi. Gagasan ini sudah cukup lama dikembangkan, tetapi tetap saja hanya sebagai wacana. “Dengan federasi, PKBI Daerah dan Cabang akan bisa aktif,” ujarnya.

Perubahan paradigmatik dan strategi gerakan, menurut Adi juga harus dibarengi dengan logo organisasi, yang mencerminkan visi dan misinya. “Gambar PKBI dengan sosok orang kurus, tidak mengenakan baju, kelihatan tulang rusuknya, dengan wajah tiada senyum, terlihat menahan sakit, memikul dua keranjang berat (program dan organisasi). Ini harus diubah,” katnya.

Adi mengusulkan perubahan logo PKBI agar lebih kontekstual dan memiliki semangat, dinamis dan profesional. Secara berseloroh, Adi mengatakan. Logo diubah dengan sosok orang bregas, berbaju rapi apik, senyum menawan, menenteng tablet.

Menyinggung konsep kerelawanan di PKBI sebagai basis organisasi, secara umum Adi mengatakan relawan PKBI terbagi menjadi dua kategori. Orang-orang yang menjadi staf dan disebut Paid Volunteer. “Walau dibayar punya semangat kerelawanan tinggi, tidak itung-itungan jam kerja,” katanya.

Kemudian ada relawan Pengurus yang disebut Un-paid Staff, mereka ini walau sebagai relawan mau bekerja profesional. “Kalau bukan bidang tugasnya, ya gak usah ikut-ikutan. Pokoknya jaga semangat “the best interest” bagi Perkumpulan,” katanya.

Berkaitan dengan pergantian kepemimpinan di level PKBI Pusat, menurut Adi Direktur Pusat harus memiliki ‘Tim Kopassus’. Ia harus menjadikan para Kepala Divisi di PKBI Pusat dan Direktur Eksekutif Daerah di setiap provinsi sebagai sekutu terbaiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *