Rendah, Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa

by
img: kudo.id

Tindak kekerasan dalam masa pacaran dan akibatnya, seperti Infeksi Menular Seksual dan Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD), belum mendapatkan perhatian dari kalangan pimpinan Perguruan Tinggi dan lembaga Kemahasiswaan. Mahasiswa menganggap hubungan seks satu kali tidak menyebabkan kehamilan.

Pengetahuan mahasiswa mengenai kesehatan reproduksi menjadi terbatas. Pengetahuan, sikap dan perilaku seksual sehat mahasiswa minim. termasuk di kalangan mahasiswa kedokteran dan kesehatan. Hasil penenelitian yang dilakukan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) sejak tahun 2005 menunjukkan fenomena ini.

“Harus ada upaya mengakrabkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan mahasiswa, dan membentuk pusat informasi konseling kesehatan reproduksi mahasiswa,” kata dr. Siti Pariani, Ph.D, dalam seminar bertajuk “Temu Nasional Kesehatan Seksual Mahasiswa” di Unika Soegijapranata Semarang, Selasa dan Rabu (26-27/5).

Seminar yang diikuti oleh 38 Perguruan Tinggi seluruh Indonesia ini, diselenggarakan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi dan didukung Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, UNFPA, dan Ford Fondation.

Kini sudah saatnya informasi seksualitas yang benar dilakukan secara terpadu dan harus menjadi gerakan masyarakat. Hal ini untuk mencegah terjadinya persepsi yang salah di kalangan mahasiswa. “Ngapain pacaran kalau hanya pegangan tangan dan ciuman,”  kata Dr. Linda Trimurni Maas, MPH, Pembantu Rektor III Universitas Sumatera Utara.

Dalam keluarga, menurutnya, orang tua harus memberikan informasi seksual kepada anaknya secara detail dan benar. Terutama anak di masa remaja. Mereka akan bisa menghindari perilaku seksual tidak bertanggung jawab.

Pariani menambahkan, kalau mahasiswa mendapatkan pendidikan kespro yang benar, mereka akan mengerti secara detail bagaimana bentuk hubungan seks yang aman. Selama ini pengetahuan mahasiswa masih sangat rendah mengenai seksualitas. Seperti yang dikutip Prof. Charles Surjadi, PhD, berdasarkan hasil penelitian JEN di tiga kota (Semarang, Jakarta, dan Makassar) tahun 2008, hampir seperlima mahasiswa, tidak mengetahui hubungan seksual satu kali, dapat menyebabkan kehamilan. “Sangat memprihatinkan dan harus ada penanganan serius untuk memutus mata rantai tersebut,” kata Charles, Ketua Program Kesehatan Reproduksi JEN.

Dr Sugiri Syarif, MPA, Kepala BKKBN Pusat, dalam sambutannya, menekankan agar masalah seksualitas tidak ditabukan. Soalnya, akan lebih berbahaya jika mahasiswa tidak mendapatkan pendidikan perihal seksualitas.

Meskipun menyadari makna pentinganya pendidikan kesehatan reproduksi, Sugiri Syarif mengakui, birokrasi pemerintahan masih rumit. Sulit merumuskan kebijakan terpadu dan terintegrasi mengenai pemberian informasi seksualitas kepada mahasiswa. “Saya mengapresiasi tinggi elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat, terutama lembaga swadaya masyarakat, seperti PKBI, yang hingga kini concern pada pemberian informasi seksualitas,” jatanya.

(Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *