Saat Remaja Kritisi RKUHP bersama Ahli Hukum dan DPRD DIY

by

SWARANUSA.NET – Diskusi nyore di kebun bulan maret ini kembali digelar, sekaligus sebagai perayaan International Women’s Day 2018. Agenda Nyore dikebun dibagi kedalam dua sesi yaitu Ruang Ngobrol dan Ruang Kreasi Seni yang diselenggarakan di Youth Center PKBI DIY, Yogyakarta, Sabtu (24/03/).

Ruang ngobrol kali ini mengusung tema talkshow “Perempuan Dan Remaja Ngobrolin Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP)”, yang menghadirkan narasumber dari Komisi A DPRD DIY diwakili oleh Eko Suwanto ST, M.Si., Sukiratnasari S.H,.M.H. dari Jaringan Perempuan Yogyakarta dan Luna dari Youth Association dengan moderator Fisa Sasmawati dari Pengurus Remaja PKBI DIY.

Eko sapaan akrab Eko Suwanto Ketua Komisi A DPRD DIY, diperingatan Hari Perempuan Internasional ini mencontohkan kekagumanya pada perjuangan perempuan yang berjualan di Pasar Sentul yang harus berangkat mulai jam 01.30 setiap harinya “Nanti malam jam setangah 2 malam coba jalan-jalan ke Pasar Sentul lihat perempuan Jogja menunjukkan jati dirinya dengan etos kerja yang luar biasa. Jam setengah 2 malam jam 2 malam mereka sudah mulai jualan sayur-mayor di Pasar Sentul” kata Eko.

Samakin sore diskusi pun semakin manarik, setelah Kiki sapaan akrab Sukiratnasari S.H,.M.H sebagai ahli hukum menyinggung terkait RKUHP, menurutnya RKUHP masih perlu direvisi karena belum ada hukum yang benar-benar melindungi korban kekerasan seksual khususnya perempuan. Perempuan korban kekerasan masih distigma, dan dianggap wajar saat perempuan mendapat kekerasan.

yang paling sulit adalah stigma pada korban di masyarakat. Dia yang mendapatkan kekerasan seksual dianggap wajar. dengan alasan Wong dia genit, Wajar aja ibunya tukang pijit, bapaknya tukang mabok. Ya kalau dia menjadi korban kekersan seksual ya wajar”. Ujar Kiki.

Kiki juga menambahkan bentuk kekerasan seksual tidak boleh menimpa siapapun termasuk kepada pekerja seks sekalipun“…Jadi perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks sekalipun tidak layak untuk mendapatkan kekerasan” tambahnya.

RKUHP juga mengancam pemberi informasi seputar Kesehatan Seksual dan Reproduksi khususnya alat kontrasepsi kondom yang dilakukan oleh yang bukan ditunjuk pemerintah seperti pada Pasal 481.

Pasal 481 dalam draf RKUHP mengatur tentang Pelarangan Menyebarkan Alat Kontrasepsi. Adapun pasal 481 dalam draf RKUHP menyebutkan, setiap orang yang tanpa hak secara terang-terangan mempertunjukkan suatu alat untuk mencegah kehamilan, secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, atau secara terang-terangan atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjukkan untuk dapat memperoleh alat pencegah kehamilan tersebut, dipidana dengan pidana denda paling banyak kategori 1.

Luna dari Youth Association mengkritisi Pasal 481 dalam draf RKUHP yang mengatur pemberian informasi alat kontrasepsi, dirinya juga sering memberikan informasi seputar kespro dan alat kontrasepsi kepada teman-temanya merasa takut dengan pasal ini. “Ketika kita ngomongin kontrasepsi kita membawa sample kondom nanti tiba-tiba kita bisa ditangkap” kata Luna.

Sebelum mengakhiri sesi Luna juga menambahkan jika RKUHP membuat aturan adanya regulasi dalam pembelian kondom. Mungkin hal itu akan semakin mempersulit dalam pencegahan HIV “Jika akses kontrasepsi itu dipersulit lalu bagaimana kita melakukan pencegahan untuk HIV..” Tambahnya.

Setelah acara ruang ngobrol berakhir, acara selanjutnya adalah Ruang Kreasi Seni Komunitas yang diawali oleh penampilan Rampak Butho dari Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO). Kemeriahan pun berlanjut dengan penampilan Tari Sintren oleh Laras, Kiss My Holiday, Balance Band, Adele Dan Fariz,  Mahasiswa Fisip UGM, Simon Dan Friends. Kehadiran warga sekitar, relawan, komunitas dan tamu undanganpun melengkapi kemeriahan acara Ruang kreasi seni malam ini. Acara pun berahir jam 10 malam diutup dengan ucapan terimakasih oleh pembawa acara dan sampai jumpa di kegiatan Nyore di Kebun selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *