Siapa Irshad Manji?

by

Salah satu alasan penyerangan—untuk membubarkan paksa diskusi dan bedah buku—yang dilakukan oleh massa ke kantor LkiS di Sorowajan adalah ketakutan bahwa Irshad Manji akan menyebarkan paham lesbianisme. Perlu diperhatikan bahwa dari alasan tersebut saja, dapat disimpukan bahwa massa belum mengerti sepenuhnya tentang homoseksualitas.

Lesbian Bukan Sebuah Paham
Lesbian merupakan kata yang digunakan untuk mengidentifikasi perempuan yang memiliki ketertarikan, khususnya secara afeksi, dengan perempuan lainnya. Ketertarikan tersebut sama dengan ketertarikan yang dimiliki oleh heteroseksual, yaitu ketika seorang perempuan memiliki ketertarikan dengan laki-laki, maupun sebaliknya. Hal tersebut disebut dengan orientasi seksual, dimana setiap individu memiliki hak untuk memilih orientasi seksual mana yang paling nyaman baginya dan tidak memaksakan orientasi pilihannya kepada orang lain. Oleh karena itu kurang tepat jika disebut-sebut lesbianisme adalah sebuah paham, apalagi diibaratkan seperti penyakit yang dapat ditularkan kepada orang lain.

Mengenal Irshad Manji
Jika massa sudah memiliki ketakutan terlebih dahulu terhadap Irshad Manji yang memang mengakui bahwa dia seorang lesbian, maka persepsi yang dimiliki massa tentang Irshad akan cenderung negatif. Oleh karena itu artikel ini akan mengupas lebih mendalam tentang Irshad Manji dan dengan kekayaan informasi diharapkan pembaca dapat lebih cerdas dalam bersikap. Riwayat hidup ini diambil dari laman web resmi Irshad Manji, yaitu https://www.irshadmanji.com/about-irshad, serta penuturannya di dalam buku Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” (terjemahan dari “The Trouble with Islam”) dan “Allah, Liberty, and Love”.

Masa Kanak-kanak dan Pendidikan
Irshad lahir pada tahun 1968 di Uganda. Orangtuanya adalah keturunan India dan Mesir. Pada masa pemerintahan diktator militer Jenderal Idi Amin ratusan keluarga dari Asia diusir, termasuk keluarga Irshad. Saat itu keluarga Irshad mengungsi ke Kanada dan ditempatkan di daerah Vancouver.
Irshad tumbuh dan berkembang di daerah tersebut. Dia datang ke dua sekolah, yaitu sekolah umum tanpa pendidikan keagamaan setiap hari Senin hingga Jumat—juga beberapa jam pada hari Sabtu—dan sekolah agama Islam atau disebut madressa (madrasah). Di sekolah umum Irshad merupakan murid yang unggul, tetapi dia justru dikeluarkan dari madrasah ketika berusia 14 tahun karena terlalu banyak bertanya. Irshad saat itu bisa saja meninggalkan Islam karena banyak pertanyaannya yang belum terjawab. Akan tetapi Irshad yakin bahwa agama yang dianutnya memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Peristiwa ini yang kemudian mendorong Irshad untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Sambil terus mencari jawaban pertanyaan dalam pikirannya, Irshad melanjutkan pendidikan di jurusan sejarah, University of British Columbia, dan mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di bidang kemanusiaan.
Selama masa pencariannya, dan hingga saat ini, Irshad mendalami Islam karena yakin bahwa yang diterimanya saat madrasah bukanlah sebuah pendidikan melainkan indoktrinasi. Seperti yang dijelaskan Irshad,”Pendidikan memberikan ruang untuk berpikir sedangkan indoktrinasi mencegahnya”. Oleh karena itu Irshad kemudian memiliki keinginan kuat untuk “memperbaharui” Islam dengan tradisi yang telah ada, yaitu ijtihad.
Dalam “Allah, Liberty, and Love” Irshad menjelaskan bahwa ijtihad merupakan sebuah tradisi dalam Islam yang mencakup perbedaan pendapat, penalaran, dan penafsiran kembali. Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata jihad atau “berjuang” tetapi tidak seperti jihad (berjuang) yang penuh kekerasan. Ijtihad terkait dengan perjuangn untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Hal tersebut kemudian berimplikasi kepada penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan—yang terkadang dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Sebagai seorang muslim, Irshad merasa harus memiliki ekspetaksi yang lebih tinggi terhadap diri sendiri. Kita pernah memperlakukan pikiran kita seperti seni, yaitu menghidupkan begitu banyak pilihan di dalam pengamalan iman. Seribu tahun yang lalu semangat ijtihad sangat terasa dalam diskusi, debat, dan perbedaan pendapat. Peradaban Islam pada saat itu juga mengalami perkembangan, memimpin dunia dengan cerdik cendikia. Para siswa muslim Spanyol (Andalusia) dapat berdialog dengan Al-Quran dari berbagai segi. Seperti yang dituliskan George Makdisi, seorang sejarawan, madrasah di abad ke-19 merupakan sumber dari kebebasan akademik di masa kini. Akan tetapi tradisi tersebut tenggelam pada abad ke-12. Saat itu kelompok muslim fanatik dari Maroko melintasi Selat Gibraltar dan menduduki Spanyol. Akibatnya, imperium Islam yang membentang dari Spanyol di bagian Barat hingga Irak bagian Timur terpecah belah.

Misi Irshad
Dalam bahasa Arab, Irshad berarti “panduan”. Hal inilah yang menjadi misi Irshad, yaitu memandu reformasi umat muslim dan keberanian moral. Misi tersebut diwujudkan ke dalam Moral Courage Project di Moral Courage Project. Di sana Irshad menjadi pendiri dan direktur yang memimpin program kepemimpinan untuk membekali para mahasiswa agar dapat melepaskan sensor diri (self-censorship, dihantui bayang-bayang kehormatan orangtua mereka).

Karir
Setelah lulus dari universitas, Irshad bekerja sebagai staff di badan legislatif Kanada. Kemudian dia menjadi sekretaris pers untuk Kementerian Urusan Perempuan Ontario dan lalu menjadi penyusun pidato untuk pemimpin di Partai Demokrasi Baru.
Saat berusia 24 tahun, Irshad masuk ke dalam jurnalisme profesional dengan menulis editorial untuk Ottawa Citizen. Hal ini menjadikan Irshad sebagai anggota termuda dari dewan editor untuk Harian Kanada.
Setelah itu Irshad memulai karirnya di televisi. Di pertengahan 1990-an dia muncul di Friendly Fire, sebuah acara debat mingguan yang mengupas pandangan liberal Irshad melawan konservatif. Irshad lalu memproduksi acara In the Public Interest di Vision TV.
Pada tahun 2001, Irshad meluncurkan acara baru dan mulai menulis buku “The Trouble with Islam Today” yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Tahun 2004 buku tersebut diluncurkan dan Irshad mulai berkeliling dunia untuk melakukan dialog. Setahun kemudian Irshad menjadi pengajar tamu di Universitas Yale untuk memberikan kuliah umum. Lalu di tahun 2007 Irshad pindah dari Toronto ke Manhattan untuk mengajar keberanian moral di New York University’s Robert F. Wagner Graduate School of Public Service. Di sinilah Irshad menemukan inspirasi untuk menulis buku barunya,”Allah, Liberty, and Love”.

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *