Vasektomi dengan Mesra di PKBI Jawa Tengah

by

Persoalan kependudukan hingga kini masih menyelimuti negeri ini. Apalagi program Keluarga Berencana yang dimulai sejak Orde Lama, dan dikembangkan lebih serius pada era Orde Baru, saat ini sedikit menurun perhatiannya. Di beberapa daerah kembali menghadapi permasalahan tingginya angka pertambahan penduduk.

Tingginya angka pertambahan penduduk di Jawa Tengah, meningkatkan potensi degradasi lingkungan dan angka kemiskinan. Selain itu, mengakibatkan beban yang makin besar dalam penyediaan kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan.

Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) di Jawa Tengah memang mengalami kecenderungan menurun. Pada periode 1980-1990 sebesar 1,74 persen, 1990-2000 sebesar 0,84 persen dan menurun menjadi 0,62 persen pada 2000-2005. Tetapi, penurunan yang terjadi masih tetap berada pada level di atas standar normal LPP.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Jawa Tengah, mengkritis pertumbuhan penduduk ini. Pada tahun 1981, PKBI Jawa Tengah, mulai mengembangkan Metode Operasi Pria (MOP) atau sering disebut vasektomi. Sebuah tindakan operasi kecil pada laki-laki yang lebih ringan ketimbang sunat. Persyaratannya, tentu saja, bagi pasangan yang tidak ingin memiliki anak lagi, sudah memiliki banyak anak (lebih dari dua), atau sang istri menderita penyakit yang membahayakan kesehatan.

Pada awal dikembangkannya, program ini tidak populer, karena diasosiasikan sebagai tindakan pengeberian laki-laki dan menyebabkan hubungan seks pasangan itu menjadi tidak nyaman. Selama tujuh tahun, terus menerus meyakinkan masyarakat mengenai program ini, termasuk meluruskan cara pandang salah masyarakat. Prof. dr. Untung Paraptohardjo, Sp.OG (alm), pun tertantang untuk melakukan berbagai upaya menarik minat masyarakat. Lalu, dikembangkanlah pemahaman MOP merupakan salah satu bentuk partisipasi laki-laki dalam program Keluarga Berencana.

Secara teknis medis, MOP dikembangkan dengan pelayanan tindakan tanpa pisau. Temuan ini ternyata mampu meningkatkan partisipasi laki-laki dalam program ini. Untuk semakin mengundang minat masyarakat, dikembangkan jargon Vasektomi MESRA (Murah, Efektif, Sederhana, Risiko rendah, dan Aman), sehingga laki-laki tak lagi was-was dan takut melakukan vasektomi. Sejak itu, akseptor yang melakukan MOP terus meningkat, Tahun 1988, melayani sebanyak 1.443 akseptor dan tahun 1989 melayani 6.129 akseptor.

Pengembangan program ini terus dilakukan. Beberapa klinik KB lengkap didirikan, di Klaten, Jepara, Tegal, dan daerah lain. Strategi menjemput bola, program pelayanan keliling vasektomi diluncurkan, memenuhi permintaan dari daerah di seluruh wilayah Propinsi Jawa Tengah. Untuk meningkatkan pelayanan kepada akseptor, dilatihlah secara rutin operator vasektomi. Peserta yang tertarik mengikuti program ini, tidak saja di Jawa Tengah, juga peserta dari beberapa daerah di luar Pulau Jawa.

Sampai kini, program MOP masih terus berjalan dan menjadi tulang punggung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pengendalian laju pertumbuhan penduduk melalui program KB. Saat ini, akseptor MOP di Jawa Tengah berjumlah 65.604 akseptor, dan PKBI Jawa Tengah menyumbang 58,21%, karena melayani akseptor sebanyak 38.186 akseptor.

Paguyuban peserta vasektomi di wilayah Jawa Tengah pun dibentuk dengan nama “Paguyuban Prio Utomo”. Kelompok ini merupakan jaringan kerja intensif yang terus dibangun PKBI Jawa Tengah. Bersama mereka informasi yang terus dikembangkan dan PKBI Jawa Tengah, terus meningkatkan kualitas layanannya. PKBI Jawa Tengah memiliki obsesi untuk mempertahankan jumlah penduduk sebesar 32.380.279 (BPS tahun 2007) yang terdiri dari 9.288.433 KK ini harus menjadi setidaknya Keluarga Sejahtera I, bukan Keluarga Prasejahtera seperti yang terjadi saat ini.

Hadziq Jauhary, Biro Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *