YOTHA, Remaja Bersatu Memperjuangkan Haknya

by

Remaja adalah suatu periode transisi dari masa kanak-kanak ke remaja. Berbagai budaya dan organisasi memiliki konsep tersendiri mengenai rentang usia remaja. Agar semua terakomodasi, PKBI mengambil batas usia terendah (10 tahun) dan batas usia tertinggi (24 tahun) untuk remaja. Dengan batasan tersebut, ternyata pada tahun 2000-2005, jumlah remaja di Indonesia sebesar 64 juta jiwa dari populasi sebanyak 222 juta jiwa (Biro Pusat Statistik). Remaja-remaja tersebut tersebar di perkotaan dan pedesaan, dengan tingkat pendidikan yang beragam, serta permasalahan yang kompleks seperti kehamilah tidak diinginkan, aborsi, penyalahgunaan narkoba, serta HIV & AIDS.

Perjuangan yang sudah dilakukan oleh para remaja tersebut masih terasa terkotak-kotak antara satu komunitas dengan komunitas yang lainnya. Menjadi hal penting untuk mengumpulkan para remaja dari berbagai komunitas dan berdiskusi mengenai kebutuhan yang dimilikinya. Pemikiran inilah yang melandasi konferensi remaja dengan prinsip “All Different All Equal, Ragam Identitas remaja, Semua Berbeda Semua Sama”.

Diawali dengan pertemuan pada 8 dan 13 Juli 2010, para remaja dari berbagai komunitas saling berbagi pengalaman hidup mereka agar timbul rasa saling mengerti dan empati di antara mereka. Mereka juga belajar bahwa ada kehidupan lain di luar komunitas mereka yang mungkin sama sekali berbeda dan kehidupan itu adalah suatu pilihan yang juga seharusnya dihargai. Hasil dari pertemuan awal ini adalah kesepakatan untuk melakukan konferensi remaja yang akan membicarakan bentuk konkrit dari perjuangan mereka dalam keberagaman identitas.

Pada 16 Juli 2010, Bumi Perkemahan Babarsari menjadi saksi keakraban para remaja yang berasal dari berbagai komunitas. Di sini para remaja jalanan menceritakan kisah mereka ketika ada garukan yang dilakukan oleh Satpol PP, pentingnya persahabatan bagi mereka, serta berbagai resiko dan kekerasan lain yang dihadapinya. Sementara remaja waria juga turut menceritakan kisahnya ketika diolok-olok oleh masyarakat, bagaimana perjuangan mereka ketika melarikan diri dari garukan, serta kerasnya perjuangan hidup yang harus dijalani. Remaja pekerja seks juga ambil bagian dalam mengisahkan profesi yang mereka tekuni. Tantangan tersendiri bagi para remaja pekerja seks untuk mensyaratkan penggunaan kondom bagi kliennya (laki-laki) agar terhindar dari penyakit/infeksi menular seksual. Mereka juga menekankan bahwa masih kuatnya stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap remaja pekerja seks, terlebih lagi jika sudah membawa agama. Bagi mereka, agama dan dosa atas profesi mereka adalah hal pribadi yang mereka pikir tidak perlu dipaksakan oleh orang lain. Lalu dari remaja sekolah juga menceritakan hambatan mereka dalam mencari informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Lingkungan di sekitar mereka masih menganggap hal itu adalah tabu dan tidak pantas untuk dibicarakan secara terbuka.

Kondisi di atas kemudian dijadikan dasar pijakan para remaja untuk berkonferensi pada 17 Juli 2010 untuk mewujudkan secara nyata perjuangan mereka. Konferensi remaja yang diadakan di Hotel Saphir melahirkan Youth Association (YOTHA) yang merupakan pengembangan dari Youth Forum (YF). Kelahiran YOTHA terjadi karena selama ini YF sudah identik dengan remaja sekolah sehingga diharapkan dengan kehadiran YOTHA semua komunitas remaja dapat terwakili. Visi yang menjadi landasan YOTHA adalah terwujudnya tatanan masyarakat dan sistem pemerintahan yang adil, tanpa diskriminasi. Isu atau perjuangan yang dilakukannya mencakup kesehatan reproduksi sebagai muatan lokal, adanya fasilitas ramah remaja, pelibatan remaja dalam pembuatan keputusan, hak pendidikan dan fasilitas jaminan hukum-kesehatan bagi remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, pengakuan identitas (hak hidup), serta perlindungan dan jaminan terhadap hak-hak remaja yang diakui secara internasional.

Dalam konferensi tersebut terbentuk pula kepemimpinannya yang diketuai oleh Agus Triyanto (akrab dipanggil Trimbil) dan wakilnya adalah Shinta. Sekretaris dipegang oleh Kai dan Dahlan, sedangkan bendahara diserahkan pada Ocha dan Itong. Sebagai pengurus harian daerah, forum menyerahkannya pada Trimbil dan Inez. Jabatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah duta atau perwakilan YOTHA sebagai youth representative, yaitu Alya dan Shinta. Mereka berdua bertugas mewakili YOTHA di tingkat regional, nasional, dan internasional agar isu-isu yang diperjuangkan YOTHA dapat didengarkan dan terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *